IMPLEMENTASI SOPRANO DI PADANG PARIAMAN PERKUAT PETERNAKAN SAPI POTONG DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
PADANG PARIAMAN , Rangkiang Nagari – Implementasi Sistem Orkestrasi Peternakan Rakyat Terintegrasi (SOPRANO) di Kabupaten Padang Pariaman mulai memberikan dampak positif terhadap pengembangan peternakan sapi potong dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Hasil monitoring dan evaluasi Tim SOPRANO yang diketuai Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat, drh. Zed Abbas, menunjukkan adanya perkembangan positif pada kelompok peternak setelah berbagai pihak mulai terhubung dalam satu ekosistem kolaborasi.
Perkembangan tersebut didukung keseriusan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Padang Pariaman dalam mengorkestrasi implementasi SOPRANO bersama pemerintah provinsi, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Fakultas Peternakan Universitas Andalas, penyuluh, serta kelompok peternak.
GAPUSPINDO TURUN LANGSUNG KE PETERNAK
Ketua Gapuspindo, Ir. Didiek Purwanto, mengatakan pihaknya hadir di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam dan Padang Pariaman, untuk membantu meningkatkan pengetahuan peternak dan petugas dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), serta Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) lainnya.
Pendampingan langsung kepada kelompok menjadi penting karena kesehatan hewan sangat menentukan produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Kehadiran Gapuspindo di lapangan juga mendorong motivasi peternak untuk memperbaiki pengelolaan usaha dan menerapkan praktik pemeliharaan ternak yang lebih baik.
MAMA CERIA, PEREMPUAN PENGGERAK PETERNAKAN
Salah satu praktik menarik dalam implementasi SOPRANO di Padang Pariaman terlihat pada Kelompok Mama Ceria.
Kelompok yang seluruh anggotanya perempuan ini mengembangkan usaha sapi potong dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Dengan pendampingan Fakultas Peternakan Universitas Andalas dan berbagai pihak, kelompok mampu mengolah limbah pertanian, batang pisang, dan rumput alam menjadi pakan fermentasi.
Mama Ceria juga mengelola lumbung pakan untuk membantu menjaga ketersediaan pakan ternak. Kotoran ternak tidak dibuang, tetapi diolah menjadi pupuk untuk tanaman.
Dengan pola tersebut, peternak berpeluang memperoleh manfaat ekonomi dari tiga sumber sekaligus, yaitu usaha ternak, pakan fermentasi, dan pupuk kandang hasil pengolahan.
Kegiatan kelompok bahkan mulai melibatkan para suami dan kaum laki-laki untuk membantu aktivitas usaha peternakan. Pemberdayaan perempuan dengan demikian ikut menciptakan aktivitas ekonomi bagi keluarga.
Kelompok Mama Ceria juga menjadi salah satu lokasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa. Kehadiran mahasiswa membuka ruang pertukaran pengetahuan dan inovasi antara perguruan tinggi dengan masyarakat peternak.
NINIK MAMAK IKUT MENDUKUNG
Kolaborasi SOPRANO di Padang Pariaman juga mendapat dukungan masyarakat adat. Ninik mamak ikut berkontribusi melalui penyediaan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan peternakan kelompok.
Dukungan ini memperlihatkan bahwa pembangunan peternakan rakyat dapat menghubungkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat adat, keluarga, dan kelompok peternak dalam satu tujuan bersama.
Ketua Kelompok Mama Ceria mengatakan kehadiran SOPRANO telah meningkatkan keyakinan anggota untuk terus mengembangkan usaha.
“Sejak SOPRANO hadir, kami lebih yakin dan memiliki motivasi bahwa kami bisa. Kami juga bisa berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga,” ujarnya.
DARI TERNAK MENUJU EKOSISTEM USAHA
Implementasi SOPRANO di Padang Pariaman memperlihatkan bahwa pengembangan peternakan sapi potong tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah ternak.
Peternak membutuhkan jaminan kesehatan hewan, ketersediaan pakan, peningkatan pengetahuan, pemanfaatan limbah, pendampingan teknologi, kelembagaan, serta dukungan sosial masyarakat. Melalui orkestrasi berbagai pihak, sumber daya tersebut mulai dipertemukan di tingkat kelompok.
SOPRANO mendorong peternakan rakyat bergerak dari usaha budidaya menuju ekosistem usaha yang menghasilkan nilai tambah. Ternak menghasilkan pendapatan. Sumber daya lokal diolah menjadi pakan. Limbah ternak kembali dimanfaatkan menjadi pupuk.
Dari Kelompok Mama Ceria, SOPRANO juga menunjukkan bahwa peternakan rakyat dapat menjadi ruang pemberdayaan perempuan dan keluarga, sekaligus membuka jalan menuju peningkatan pendapatan dan kemandirian masyarakat.,(01).








