Articles by "Pariwisata"

Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

PADANG (RangkiangNagari) – Bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Sumatera Barat bosan dengan tujuan itu-itu saja, sekarang ada Agro Wisata Batu Patah Payo di Kelurahan Tanah Garam Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok

Pada objek wisata yang berada di perbukitan dengan ketinggian 840 meter di atas permukaan lait (mdpl) ini, pengunjung akan dapat menyaksikan dan bisa ikut budi daya bunga chrysantemum atau krisan beraneka ragam warna.
Selain budi daya bunga krisan, pengunjung juga dapat melihat langsung kebun kopi di atas lahan seluas 40 hektar di daerah ketinggian.

Dengan berdirinya fasilitas menara pandang yang ada saat ini, pengunjung yang berkunjung ke Bukit Batu Patah Payo juga bisa melihat langsung keindahan Danau Singkarak, Gunung Talang, Gunung Marapi dan pemandangan Kota Solok dari ketinggian.

“Dengan melihat keindahan tersebut, dengan konsep agro kita, pengunjung juga bisa menikmatinya sambil menikmati kopi Payo yang kita produksi,” terang Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, Milda Murniati, saat menerima kunjungan Fam Trip Dinas Pariwisata Sumbar, Selasa (5/3/2024).

Untuk pengembangan objek wisata Batu Patah Payo ini, Pemko Solok saat ini menurutnya tengah menyiapkan master plan-nya. Ke depan akan disediakan paket wisata edukasi untuk bidang pertanian. Seperti edukasi bunga krisan dan edukasi proses produksi kopi payo.
Ke depan juga akan banyak budi daya yang dikembangkan di objek wisata ini. Pasalnya, Batu Patah Payo tidak hanya memiliki potensi bunga krisan dan kopi saja. Tetapi juga memiliki potensi kunyit, durian dan juga sekarang sudah ada penangkaran rusa.

“Jadi masih banyak lagi yang dikembangkan. Nanti akan ada zonasi terhadap komoditi tertentu. Melalui jalan lingkar tani nantinya yang akan dibangun, pengunjung nantinya bisa boleh memetik bunga krisan, kopi, durian dan kunyit,” terangnya.

Selain potensi agro yang dimiliki, melalui Pokdarwis Batu Patah Payo juga memanjakan pengunjung dengan dengan suguhan kuliner khas daerah ini, seperti gulai batang pisang dan kerucut baluik. Juga ada pertunjukan kesenian menari piring di atas kelapa.

Untuk membuat pengunjung betah berlama-lama di Bukit Batu Patah Payo, juga disediakan fasilitas home stay untuk menginap.
“Saat ini ada dua home stay, ke depan akan diperbanyak home stay nantinya,” tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Solok Zulkifli mengatakan, Agro Wisata Batu Patah Payo ini sudah hadir sejak tahun 2015 silam. Awalnya masyarakat di Bukit Batu Patah Payo ini dulunya angka kemiskinan tinggi.
Untuk mengatasi kemiskinan di daerah ini, maka dikembangkan Agro Wisata Komoditi Pertanian. Salah satunya bunga krisan. “Kenapa bungan krisan, karena pasarnya cukup menjanjikan karena dikenal internasional,” terangnya.

Zulkifli mengungkapkan, bunga krisan yang diproduksi merupakan bunga dengan kualitas ekspor yang telah mendapat Grade “A”. Ada 18 varietas warna bunga krisan yang diproduksi. Pasarnya menembus Pekanbaru Riau dan Batam Kepulauan Riau (Kepri). Untuk lokal pasarnya mencapai Kota Padang dan Bukittinggi. Dalam satu bulannya, menurut Zulkifli bunga krisan yang dipasarkan mencapai 5000 batang, dengan satu batang harganya Rp2000.

Selain potensi bunga krisan, di puncak Batu Patah Payo ini memang ada potensi kopi peninggalan Belanda. Sejarah dulunya adanya kerja paksa yang diberlakukan saat penjajahan Belanda, masyarakat dipaksa menanam kopi sepanjang 10 kilometer. Kemudian Belanda juga mendirikan pabriknya yang masih ada berdiri saat ini di sini.
Pada tahun 2015 lalu, tanaman dan lahan kopi peninggalan Belanda ini lalu dieksekusi Pemko Solok, dengan melakukan peremajaan tanaman kopi peninggalan Belanda. Jika dulunya di zaman Belanda lahan untuk komoditi kopi ini mencapai 100 hektar, kini lahan yang tinggal mencapai 40 hektar.

Jenis kopi yang diproduksi berupa kopi robusta. Selain itu juga ada kopi arabika yang ditanam di atas lahan 5 hektar.

Zulkilfli juga mengungkapan, Bukti Batu Patah Payo juga memiliki potensi komoditi kunyit. Tanaman ini dijadikan bahan untuk jamu dan bahkan pasarnya sudah menembus Jawa dan Batam.

“Eksportirnya ke Batam. Komoditi kunyit ini sekarang proses sertifikasi. Jika keluar sertifikasi maka menjadi satu satunya kunyit di Indonesia yang memiliki rimpang cukup besar,” terangnya.

 

#Rn

PADANG (RangkiangNagari) – Bangunan-bangunan arsitektur eropa abad ke 17 terlihat berbaris di sepanjang kawasan Pecinan Kota Padang. Kawasan ini siap menunggu wisatawan bagi yang berminat mengunjungi wisata sejarah.

Kawasan ini menjadi objek wisata, Kawasan Kota Tua. Kawasan yang menarik pengunjung pada abad ke 17. Menunjukan masa keemasan Pelabuhan Muaro sebagai sebuah bandar perdagangan besar juga sudah jadi sejarah
Gedung-gedung peninggalan VOC di pinggiran Batang Arau itu masih tersisa. Jejeran bangunan yang pernah menjadi perkantoran dan gudang beragam komoditas seperti emas, batu bara, teh, kopi, kapur barus, garam dan kemenyan masih berdiri melewati berabad-abad waktu.

Sebagian bangunan berarsitektur Eropa peninggalan Belanda itu difungsikan menjadi kafe dengan lampu warna-warni. Menyajikan sajian kekinian dan hiburan musik “live”. Keindahan yang terekam jelas bisa menikmatinya dari atas Jembatan Siti Nurbaya yang membentang di atas sungai Batang Arau.

Tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya, berdiri megah Gedung GEO Wehry & CO. Gedung kantor sekaligus gudang dari firma atau perusahaan ekspor-impor terbesar di Hindia-Belanda (Indonesia) pada masa kolonial itu yang didirikan pada 1911 dan diresmikan pada 1920.

Tidak hanya bangunan khas Eropa, di kawasan ini, pengunjung juga akan dibawa kepada nuansa hidup seperti suasana di Pecinan, dengan hadirnya sejumlah klenteng berumur tua dan bangunan kongsi-kongsi masyarakat keturunan Etnis Tionghoa yang masih berdiri kokoh.

Masing-masing bangunan tua tersebut memiliki sejarah sendiri. Namun, di antara bangunan tua tersebut, ada salah satu bangunan yang paling lama di kawasan Kota Tua tersebut. Bangunan tersebut bernama Klenteng See Hin Kiong.

Bangunan Klenteng See Hin Kiong ini masih berdiri kokoh. Namun, saat ini bangunan yang dulunya dimanfaatkan untuk sebagai tempat beribadah bagi masyarakat Etnis Tinghoa, kini berubah fungsi sejak gempa 2009 merusak bangunan tersebut.
Setelah diperbaiki, bangunan tersebut telah dijadikan sebagai salah satu heritage tujuan destinasi wisata, setelah hadirnya bangunan klenteng baru untuk beribadah yang berdiri berjarak 100 meter dari lokasi bangunan klenteng tersebut.

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Padang, Bilu Pricilia mengungkapkan, Klenteng See Hin Kiong berdiri pada tahun 1841. Klenteng ini didirikan oleh Bangsa Hok Hwa yang berasal dari Tiongkok. Awal mulanya klenteng ini bernama Kwan Im Teng yang dibangun oleh para pedagang.

“Dulunya kelenteng ini berdinding kayu dan beratap daun rumbia. Pada tahun 1861, Klenteng Hok Kwa terbakar karena kecerobohan pekerja di klenteng. Akhirnya dibangun kembali pada tahun 1893-1897 dari dana sewa los bambu, tempat berjualan yang berlokasi di pasar sekitar Klenteng (Pasar Tanah Konsi). Klenteng Kwan Im Teng ini berubah nama menjadi Klenteng See Hin Kiong pada 1 November 1905,” terang Bilu, Senin (4/3).

Adyatama Parekraf Ahli Muda Dinas Pariwisata Kota Padang, Tri Pria Anugrah mengatakan, pada tahun 2023 ini, kawasan Kota Tua di telah dibuatkan master plan-nya. Pelaksanaanya di Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar.

Turunan dari master plan ini, saat ini telah dibentuk Badan Pengelola (BP) yang diketuai Sekda Kota Padang, Andree Algamar. BP Kawasan Kota Tua ini melibatkan OPD terkait baik teknis dan sosial dan pariwisata. Termasuk juga melibatkan akademisi dan praktisi.

Dengan terbentuknya BP Kawasan Kota Tua ini, maka ke depan bakal banyak percepatan pembangunan dan pengembangan kawasan ini. Menurutnya, pembangunan yang sudah dilaksanakan misalnya, jalan di Kawasan Kota Tua sudah dipasang lampu jalan.
Selain itu, juga akan dibangun infratsruktur pendukung. Di mana tahun ini melalui Dinas PUPR Kota Padang, juga telah membuat DED perbaikan jalan di sepanjang pinggir Batang Arau.

“Ke depan kita sudah ada Detail Enginering Desain (DED) pengembangan Kawasan Kota Tua,” terangnya.
Kendala yang dihadapi dalam melakukan revitalisasi bangunan heritage di Kawasan Kota Tua ini selama ini, banyak bangunannya milik pribadi dan BUMN seperti Perusahaan Dagang Indonesia. Juga ada milik komunitas dan kelompok. Sementara Pemko Padang tidak punya lahan aset di Kawasan Kota Tua.

“Ke depan kita menjalin kerja sama atau MoU dengan pihak terkait pemiliik bangunan untuk dapat dilakukan pemanfaatan bangunan. Untuk memaksimalkan pengembangannya, kita juga libatkan komunitas,” terangnya.

Anggota Komunitas Padang Hetirage, Danil mengatakan, Kawasan Kota Tua di Kota Padang dikenal dengan Kota Tua Padang atau Padang Lama. Hadirnya Kota Tua Padang tidak lepas dari keberadaan sungai Batang Arau dan Pelabuhan Muaro.

Tempat ini merupakan cikal bakal keberadaan Kota Padang dan menjadi saksi akan jayanya tempo dulu sekaligus sebagai menjadi tapak mula berkembangnya Kota Padang.

Kota Padang mulai berkembang ketika kedatangan pedagang Belanda yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1663. Kota Padang sebagai markas besarnya untuk kawasan pantai barat Sumatera (Sumatra’s Westkust) mulai tahun 1666.

VOC tertarik untuk membuat pelabuhan di kawasan muara sungai Batang Arau, karena memiliki muara yang luas dan bagus untuk bersandar kapal-kapal dagang. Seiring berjalannya waktu, Kota Padang berkembang menjadi pusat perdagangan terpenting dengan ditujuk sebagai ibu kota pada 1668.
Pada 7 Agustus 1669, hari itu terjadinya pergolakan masyarakat Pauh, Kuranji, dan Koto Tangah untuk melawan monopli VOC dengan membakar loji di kawasan Pelabuhan Muaro. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Padang.

Pada tahun 1670 VOC kembali membuat loji dan benteng di kawasan Pelabuhan Muaro. Pada tahun 1781 benteng VOC dibongkar oleh Inggris. VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799 dan diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kota Padang semakin berkembang setelah adanya Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, pabrik Semen di Padang, Tambang Batu Bara di Sawahlunto, dan dibangunnya jaringan kereta api hampir di seluruh wilayah Sumbar yang dikenal dengan proyek Tiga Serangkai Belanda untuk industry Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang sekarang menjadi warisan dunia.

Lalu lintas perdagang semakin ramai dan berkembang pesat sehingga sekitaran wilayah ini tumbuh menjadi pusat pemukiman baru yang homogen dan padat sehingga Kota Padang dijuluki sebagai kota metropolitan di kawasan pesisir pantai barat pulau Sumatera di abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Saat ini di sekitar bekas benteng VOC di tepi sungai Batang Arau merupakan pusat kota lama dengan bangunan berarsitektur kolonial. Tercatat ada lebih 20 bangsa asing di dunia pernah datang ke Kota Padang dan hingga saat ini ada 18 bangunan cagar budaya yang ada di sekitar Batang Arau.

 

#Rn

PADANG (RangkiangNagari) – Berkunjung ke Sumatera Barat, jangan pernah coret Mandeh dari salah satu tujuan anda. Mandeh makin lama menjadi tujuan wisata bahari yang mempesona.

Keindahan wisata bahari di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) masih menjadi pilihan kunjungan. Tebukti dengan adanya kawasan wisata Mandeh yang sudah tersohor hingga mancanegara.
Hamparan gugusan pulau-pulau yang tersaji, membuat wisatawan terpesona untuk mengunjungi gugusan itu satu per satu.

Meski kawasan Mandeh telah mendapatkan tempat pada industri pariwisata nasional hingga internasional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pessel terus melakukan pengembangan wisata di berbagai kawasan untuk pemerataan objek yang nantinya akan berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat.

Secara geografis Kawasan Mandeh terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Madeh tidak hanya menyuguhkan pemandangan laut dan pantai yang indah. Namun, juga hamparan perbukitan hingga hutan bakau.

Selama perjalanan menuju spot-spot andalan di kawasan tersebut, pengunjung bisa melihat lebih dekat potret kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan yang bermukim pada daerah itu.
Hingga sekarang kawasan Mandeh yang memiliki luas lebih kurang 18.000 hektare, terus dikembangkan dengan mengandeng seluruh unsur termasuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) hingga investor. Untuk mengakomodir kenyamanan wisatawan, kawasan Mandeh telah memiliki sejumlah penginapan yang representatif, salah satunya Pandan View

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pessel, Gunawan mengungkapkan, wisatawan datang ke Pessel, karena daya tarik yang ada di daerah ini adalah wisata bahari. Di mana daerah ini memiliki banyak pulau, seperti di Kawasan Mandeh ini.

“Wisatawan berkunjung ingin menikmati kapal wisata ke pulau, juga ada menikmati click jumping terjun dari Pulau Sironjong dengan ketinggian sekian, mandi air terjun, wisata ke pulau-pulau, ada snorkeling, diving. Semuanya ada komunitas yang memandu,” terang Gunawan, Senin (4/3) di Pandan View Mandeh.

Gunawan menambahkan, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke objek wisata bahari di Kawasan Mandeh ini, dibutuhkan upaya meningkatkan kesadaran wisata masyarakatnya.
“Alhamdulillah sejak dibuka aksesnya jalan ke Kawasan Mandeh, masyarakat yang dulunya hidup di pedalaman ini mulai transisi dari masyarakat nelayan menuju masyarakat sadar wisata. Dengan meningkatnya kunjungan ke kawasan wisata ini, tingkat keramahan masyarakat mulai meningkat,” terang Gunawan.

Lebih lanjut Gunawan menambahkan, secara umum, di Pessel ada empat kawasan destinasi utama. Yakni, Kawasan Mandeh, Pantai Carocok, Lengayang dan Rumah Gadang Mande Rubiah.
“Destinasi wisata utama ini didukung oleh kawasan strategis penyangga, seperti objek wisata Jembatan Akar, ada Timbulun di Carocok, ada Nyiur Melambai, Hutan Saridano di arah Selatan, Pasir Putih. Di Mande Rubiah jadi destinasi wisata budaya. Ini potensi untuk dikembangkan,” terangnya.

Sementara, khusus di Kawasan Mandeh ada dua destinasi, yakni, dari Puncak Mandeh sampai ke Sungai Nyalo hingga Sungai Pinang, yang diarahkan jadi kawasan wisata pariwisata partisipatif massif. Di mana, masyarakatlah yang lebih didorong pro aktif melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis). Sementara, kawasan wisata Bukit Ameh, Kapo-kapo, Pulau Cubadak, jadi kawasan ekonomi khusus padat modal bagi investor.

Untuk pengembangan objek wisata Kawasan Mandeh dan destinasi wisata lainnya di Pessel, menurut Gunawan, Pemkab Pessel sekarang sedang menyiapkan, rencana detail tata ruang (RDTR). Sebelumnya sudah ditindaklanjuti Pemprov Sumbar.

Namun, sempat ada kendala, RDTR menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten kota, sehingga dipulangkan kembali kepada Dinas RTRW Kabupaten Pessel, untuk melanjutkan RDTR yang sudah dimulai Pemprov Sumbar.
Gunawan mengungkapkan, dengan adanya RDTR maka akan jelas penzonasian daerah. Pasalnya, saat ini investor yang masuk ke Pessel ragu dan bingung dengan ketidakjelasan zonasi. “Jika RDTR ini selesai, maka kita bisa ekspos potensi kawsan yang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata kepada investor,” terangnya.

Dengan meningkatnya kunjungan ke kawasan wisata di Pessel, Pemkab Pessel juga berupaya meningkatkan pelayanannya. Pemkab Pessel telah memiliki pusat informasi pariwisata di Kawasan Pantai Carocok. Di sana juga memiliki fasilitas umum, seperti kafe, parkir, musala dan lainnya. Namun, sejak pandemi Covid-19, fasilitas pusat informasi tersebut tidak beroperasi lagi. Hal ini dikendalakan karena keterbatasan anggaran.

Meski demikian, untuk wisata pulau seperti Pulau Kapo-kapo bisa diakses melalui Pantai Carocok dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang memiliki operator kapal boat yang disediakan oleh pokdarwis.

“Juga di pulau lain seperti Pulau Pagang, Pulau Bintangor, Swarna Dwipa dan Pulau Setan juga disediakan paket-paket wisata yang disediakan operator wisata. Pelaku wisata dan operator boat sudah koneksi dengan paket-paket wisata yang disediakan. Mereka sudah paham. Untuk keselamatan penumpang, Pemkab Pessel sudah kerjasama dengan asuransi PT Jasa Raharja,” terangnya.

 

#Rn

JAKARTA (RangkiangNagari) – Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 merupakan salah satu program pengembangan kepariwisataan Indonesia yang sedang digalakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dengan mengangkat tema “Indonesia Bangkit”. Program ini diharapkan mampu mewujudkan visi “Indonesia sebagai Negara Tujuan Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Mampu Mendorong Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Rakyat”.Rangkaian Sosialisi acara Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 akan dimulai 22 Mei sampai 25 Juni 2021.

Program Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menyelenggarakan acara “Sosialisi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021” dengan tema“Indonesia Bangkit”.“Wisata Pasar Paloh Naga memang unik.  Meskipun nilai transaksi menggunakan Kepeng masih belum signifikan dalam industri pariwisata, namun kami melihat semangat menjadikan desa wisata ini memiliki keunikan dan tumbuh berkembang merupakan prestasi tersendiri bagi kami di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” ujar Sandiaga Salahuddin Uno.

Visi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah kepemimpinan Sandiaga Uno dengan program nyata Anugerah Desa Wisata 2021 menjadi stimulan kebangkitan industri wisata nasional yang terdampak pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu. Sosok pemimpin alternatif seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini di tengah krisis yang dialami Indonesia.Program Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, telah berjalan di beberapa daerah di antaranya Desa pujon Malang, Desa Mas Ubud, Desa Tugu Selatan Cisarua, Desa Cibuntu Kuningan, Desa Candirejo Magelang dan Desa Pentingsari Sleman.

Desa Wisata Denai Lama, Kabupaten Deli Serdang dipilih dalam kegiatan sosialisasi ini karena terkenal dengan literasi adat budayanya, seperti budaya Jawa, Melayu dan Batak yang juga menghasilkan kerajinan yang beragam, seperti kain tenun khas Desa Denai Lama, Kain Batik Jumputan, dan Kerajinan dari batok kelapa.

Desa Wisata Denai Lama juga berkembang dalam pemanfaatan potensi desa, seperti dibangunnya sanggar lingkaran yang memiliki kafe baca yang juga berfungsi sebagai taman bacaan. Salah satu manfaatnya untuk pengembangan karakter Sumber Daya Masyarakatnya, dikelola remaja desa Denai Lama.

Selain itu, Denai lama berhasil berkembang di bidang agrowisata salah satunya Paloh Naga sebagai pusat produksi jajanan dan oleh-oleh yang mempunyai ciri khas dalam setiap transaksi jual belinya masih menggunakan cara barter (menukarkan uang dalam bentuk koin kayu).Tujuan Kegiatan

Tujuan acara ini adalah untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan program “Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021” agar dari 57.000 desa di seluruh Indonesia yang memiliki daya tarik wisata tergerak untuk mendaftarkan desanya ke dalam program “Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021”.Dari agenda 9 Desa yang dikunjungi Menparekraf dan Public Figure memiliki tujuan memberikan acuan contoh dan motivasi desa lainnya yang ada diseluruh Indonesia untuk ikut serta mendaftarkan dan berkompetisi untuk menjadikan desa mereka sebagai Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Mampu Mendorong Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Rakyat”. Tidak hanya itu kegiatan ini juga bisa membangun motivasi bagi pengembangan desa dan menjadi penggerak ekonomi tingkat desa melalui desa wisata. Calon desa pendaftar juga tidak hanya bagi desa yang baru, melainkan desa wisata rintisan, berkembang dan maju yang belum mendaftarkan desanya juga bisa mengikuti program ini. Berikutnya diharapkan target tahun 2021 dengan adanya “Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021” Kemenparekraf dapat mencatat setidaknya lebih dari 700 desa wisata yang masuk ke dalam data Desa Wisata Indonesia.

Acara promosi ini dilakukan Sandiaga Uno, bersama Arif Muhammad (Mak Beti) selaku Public Figure yang terkenal dengan impersonetnya sebagai sosok ibu-ibu Batak yang selalu memakai daster dan tudung kepala dalam setiap penampilannya. Lalu Vito Sinaga seorang youtuber yang akrab disapa dengan Ucok putra daerah asli Sumatera Utara.

Acara Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 akan mengusung 7 kategori penilaian bagi desa wisata pendaftar, diantaranya: CHSE,Desa Digital, Souvenir (Kuliner, Fesyen, Kriya), Daya Tarik Wisata (Alam, Budaya, Buatan), Konten Kreatif, Homestay dan Toilet. Dimana kategori tersebut diharapkan mampu mendorong berkembangnya desa wisata menjadi wisata berkelanjutan dan sebagai bahan untuk meningkatkan kualitasyang dapat diikuti oleh semua desa di Indonesia.

Proses Pelaksanaan kegiatan tersebut akan dilaksanakan sebagai berikut :
1. Promosi: 30 April s/d 25 Juni 2021
2. Registrasi Online: 7 Mei 2021 s/d 26 Juni 2021,
(Dimana semua Desa di Indonesia harus melengkapi data-data yang sudahditentukan)
3. Promosi Regional: 20 Mei 2021 s/d 24 Juni 2021
4. Kurasi: 28Juni2021s/d 2 Juli 2021
5. Pembekalan/ Workshop: 5 Juli 2021 s/d 16 Juli 2021 (Online)
(Kegiatan ini dilakukan untuk mempertajam pemahaman mengenai syarat dan ketentuan kategori dan juga sarana edukasi CHSE)
6. Penetuan 50 Desa terbaik: 16 Agt 2021 s/d 20 Agt 2021
(Para dewan juri akan menentukan 500 desa sebagai nominasi, dan akan dipilih 50 desa terbaik, yang nantinya akan dilakukan visitasi/verifikasi oleh Menparekraf dan perwakilan dari dewan juri)
7. Visit: 23 Agt 2021 s/d 12 Nov 2021
(Pada saat Visit masing masing dari 50 Desa akan mempresentasikan keunggulan desa masing-maisng sesuai dengan kategori penilaian dan akan di lakulan penilaian langsung oleh Menparekraf dan Perwakilan Juri.
8. Penentuan 10 Besar: 15 Nov 2021s/d 19 Nov 2021
(Penentuan 10 besar desa wisata dilakukan berdasarkan skor penilaian yang didapat setelah visitasi/verifikasi)
9. Penentuan 4 Besar: 22Nov s/d 3 Des 2021
(Dilakukan penilaian kembali oleh dewan juri untuk memilih 4 desa terbaik dan juga voting oleh masyarakat untuk memilih 1 desa terfavorit lewat media sosial.
10. Malam Puncak: 7 Des 2021
(Pengumuman 4 desa terbaik dan 1 desa terfavorit akan diumumkan di acara Malam Puncak Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021)

 

#Ryan

PADANG (RangkiangNagari) – Guna menjaga habitat bilih di Danau Singkarak, Kabupaten Solok Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar menertibkan bagan di danau tersebut. Penertiban terhenti karena diprotes oknum pemilik bagan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri mengatakan, melakukan penertiban pada Senin (15/7) lalu. Namun, penertiban itu urung dilakukan hingga selesai karena situasi masyarakat yang mengaku pemilik bagan mulai melakukan protes.

“Kita ada dua tim saat itu dalam penertiban, tim darat dan laut. Bahkan tim sempat melakukan penarikan beberapa bagan kedaratan dari danau. Tetapi saat itu situasi di lapangan mulai memanas karena protes dari masyarakat yang mengaku pemilik bagan, maka untuk menghindari bentrokan, kami langsung melakukan dialog di dermaga itu bersama masyarakat yang melakukan protes karena tidak menginginkan ada penertiban bagan ,” ujarnya, Selasa (16/7).

Dikatakannya, dalam dialog itu pihaknya mendengarkan aspirasi dari masyarakat yang protes tersebut. Mereka tidak terima dengan penertiban bagan ini.

“Macam-macamlah yang disebutkan mereka dalam protes itu, intinya mereka menolak penertiban bagan ini. Tapi kita tetap dengan pendirian memberikan mereka edukasi bahwa penggunaan bagan ini berdampak kepunahan ikan bilih di danau singkarak,” katanya.

Lanjutnya, tidak hanya protes itu saja. Namun, mereka juga berkeinginan karamba untuk dilakukan penindakan seperti halnya bagan.

“Mereka protes karamba juga mesti ditindak. Tidak hanya bagan saja. Kita pastinya akan lakukan penindakan juga terhadap karamba, apalagi saat ini kita tengah membahas peraturan daerah dengan DPRD tentang tata ruang danau singkarak,” katanya.

Dikatakannya, penertiban bagan dilakukan berdasarkan peraturan gubernur no 81 tahun 2017. Bahkan aturan tersebut sudah disosialisasikan kepada masyarakat pemilik bagan sebelum dilakukan penertiban.

“Untuk karamba kita akan panggil nanti pemiliknya. Kita beri mereka pemahaman sama seperti bagan, bahwa penggunaan alat ini tidak ramah lingkungan dan membawa kepunahan pada ikan bilih,” katanya.

Penertiban bagan dan karamba memang betul-betul membutuhkan proses, sebab memberikan pemahaman kepada masyarakat dan tentunya pihaknya memikirkan kehidupan masyarakat yang bergantung kepada danau ini.

Selanjutnya, ungkap Yosmeri pihaknya bersama stakeholder terkait akan melakukan penertiban dan memberikan pemahaman yang sama kepada pemilik bagan di sepanjang danau singkarak lain, yang termasuk wilayah Tanah Datar, sekitar tanggal 18 atau 19 Juli nanti.

Sebelumnya, sejak ada bagan persentase ikan bilih menurun hingga 80 persen. Bahkan untuk mencari ikan satu kilogram saja sulit sebab volume ikan yang terus turun.

#Ryan

JAKARTA (RangkiangNagari) – Meningkatkan wisatawan dari Indonesia Central Japan International Airport Co.Ltd, (Centrair) wilayah Nagoya di Jepang, menggelar konferensi pers pertama kalinya di Indonesia. Centrair kenalkan wisata Nagoya sebagai destinasi Jepang melalui #AdaApaDenganNagoya bersama Chelsea Islan. Penerbangan langsung Jakarta dan Nagoya menggunakan maskapai Garuda Indonesia, yang beroperasi sejak 23 Maret 2019 lalu.

Indonesia saat ini mendapat perhatian para pelaku bisnis pariwisata di Jepang. Angka pertumbuhan wisatawan Indonesia ke Jepang menunjukkan rata-rata lebih dari 20%. Ditandai jumlah wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang pada 2018, mencapai 400.000 orang. Di sekitar wilayah Nagoya menjadi kawasan wisata menarik untuk wisatawan lndonesia.

Central Japan International Airport Co, Ltd, Felix Hartanto, kepada Singgalang di Jakarta Selasa (9/7) menjelaskan, melihat peluang tersebut, sebagai pintu gerbang wilayah Nagoya Jepang, Centrair ingin memperkenalkan rute wisata baru Jepang kepada wisatawan Indonesia. Kami menjalin kerja sama dengan Chelsea Islan dengan mengangkat slogan “#AdaApaDenganNagoya.

Melihat penyebaran wisatawan Indonesia di Jepang yang masih terpusat di golden route yang melewati Tokyo Osaka, Jepang, Centrair mengangkat slogan “#AdaApaDenganNagoya” untuk menciptakan wisatawan Indonesia terhadap wilayah Nagoya, yang dipercaya akan menjadi rute wisata baru yang sangat menarik.

Chelsea Islan yang telah mengunjungi Nagoya dengan menggunakan penerbangan langsung Garuda Indonesia antara Jakarta dan Nagoya. Banyak tempat wisata yang dikunjungi Chelsea untuk pertama kalinya.

Banyak pengalaman baru saat di Nagoya, seperti memakai kimono di kota Inuyama, menonton iluminasi yang indah di Nabana no Sato, makan kuliner lokal seperti hitsumabushi (nasi ikan belut) dan tebasaki (ayam goreng khas Nagoya) dan berbelanja di shopping district Sakae, outlet mall. “Dengan penerbangan langsung dari Jakarta ke Nagoya, saya bisa mengunjungi tempat wisata di Nagoya dan sekitarnya dengan mudah dan nyaman”, tutur Chelsea.

Disampaikan oleh Hidehisa Nagae, Board Member dan Director of Route Development & Marketing dari Central Japan International Airport Co. Ltd. “Penerbangan langsung maskapai Garuda Indonesia yang menghubungkan Jakarta dan Nagoya sangat praktis bagi wisatawan Indonesia.

Melalui penerbangan wisatawan dari Indonesia, dapat menikmati keindahan pemandangan empat musim dan kebudayaan Nagoya dan sekitarnya. Berharap dengan #AdaApaDenganNagoya, para wisatawan tanah air dapat menikmati pengalaman yang mengesankan di wilayah Nagoya, Jepang dengan fasilitas maskapai dan bandara bintang lima.

#Ryan

SAWAHLUNTO (RangkiangNagari) – Objek Wisata Puncak Cemara, Kandi dan Waterboom di Sawahlunto ramai dikunjungi warga yang berlibur Idul Fitri 1440 Hijriyah. Puncak ramaianya warga berliburan di objek wisata itu tampak pada hari pertama, kedua dan ketiga hingga menjelang pasca Idul Fitri.

Pantauan Singgalang, sejak awal lebaran Idul Fitri Rabu (5/6) hingga Minggu (9/6), ramainya warga yang berlibur membuat jalan utama di depan Taman Satwa Kandi menjadi areal parkir bagi pengunjung. Pengelola Kawasan objek wisata itu menjadikan jalur yang melintasi Taman Satwa Kandi alur khusus bagi wisatawan yang berkunjung.

Bagi warga yang melewati Kawasan Kandi menuju Batusangkar melewati depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba. Di Kawasan objek wisata itu, selain menyaksikan satwa pengunjung menikmati liburan dengan sepeda air, banana boat, perahu naga dan balon air di Danau Tandikek. Bagi yang menguji adrenalin dengan flying fox melintasi Danau Tandikek.

“Sambil berlebaran Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga sekaligus menikmati liburan di Taman Satwa Kandi dan waterboom,” ujar Andi, karyawan swasta di Pekanbaru, Riau.

Di objek wisata Puncak Cemara, juga tak kalah ramai dikunjungi warga yang berlibur. Wahana baru yang disediakan pengelola, balon udara. Dari atas balon udara pengunjung menyaksikan kota tua Sawahlunto yang berada di cekungan Lembah Sugar.

Sementara itu, di objek wisata Waterboom, Muarokalaban, kunjungan wisatawan juga ramai.

#Ryan

PADANG (RangkiangNagari) – Pemerintah Provinsi Sumbar menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 58 ribu dan wisatawan nusantara sebanyak 82 ribu pada 2019. Dengan itu, Pemprov Sumbar terus mendukung upaya kabupten/kota untuk membenahi destinasi wisata yang ada.

“Destinasi wisata yang menjadi unggulan di Sumbar, tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun lalu. Meskipun, tidak banyak perubahan dari tahun lalu. Tetapi, Sumbar terus berbenah dalam mengembangkan destinasi lainnya, ini untuk menarik jumlah wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara,”ungkap Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Oni Yulfian, Senin (8/4) di Padang.

Disebutkannya, tahun ini, Bukittinggi, Batusangkar, Harau dan Kelok 9 masih menjadi bagian dari destinasi wisata unggulan di Sumbar. Karena, tidak bisa dipungkiri, daerah-daerah itu menyediakan kebutuhan wisatawan secara lengkap. Mulai dari kuliner, oleh-oleh (buah tangan), penginapan, hingga tradisi budaya yang ada.

“Kami juga sudah coba kembangkan ke arah selatan, seperti mandeh. Tapi sekarang masih dalam tahap pembenahan. Termasuk juga daerah lain seperti Solok yang sudah rutin adakan event, ini sangat bagus dan patut dicontoh oleh daerah lainnya di Sumbar. Ada banyak cara kami lakukan untuk peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ini, tentunya bekerjasama dengan pihak lain juga,” ujarnya.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, ia mengatakan akan fokus pada empat hal. Mulai dari pemasaran, pengembangan destinasi, ekonomi kreatif, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi kreatif pariwisata.

“Sejumlah kabupaten kota juga sudah punya master plant, diantaranya Kabupaten Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Limapuluh Kota. Ini tentunya juga dapat memberikan kontribusi untuk kajuan pariwisata kita di Sumbar,” tukasnya.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Sumbar melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Februari 2019 mencapai 5.155 orang, mengalami peningkatan 13,70 persen.

#Ryan

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.