Latest Post

Padang Aro (Rangkiangnagari) - Pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Serentak Kabupaten Solok Selatan Tahun 2026 tidak hanya memerlukan kesiapan penyelenggara pemilu namun dukungan seluruh elemen dalam masyarakat menjaga keamanan, diminta dan kondusivitas, terutama Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) di nagari.

Satlinmas akan berhadapan langsung dengan berbagai situasi di lapangan selama tahapan hingga pelaksanaan Pilwana. Oleh karena itu, personel Satlinmas diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional, adil dan tidak berpihak pada salah satu kepentingan politik.

Hal ini dikemukakan Sekretaris Daerah Solok Selatan Dr. H. Syamsurizaldi saat memberikan pembekalan dan sharing informasi dalam bidang tugas Satlinmas dalam rangka pelaksanaan Pilwana Serentak Kabupaten Solok Selatan Tahun 2026, di Aula Sarantau Sasurambi Kantor Bupati Solok Selatan, Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini berlangsung selama 2(dua) hari, 9-10 September 2026.

“Sebagai Satlinmas tentu akan menghadapi persoalan-persoalan di lapangan. Kita berharap Pilwana ini tidak seperti pemilu legislatif. Pemilihan di nagari memiliki suasana dan karakter tersendiri, karena masyarakat yang memilih dan dipilih berada dalam lingkungan sosial yang saling mengenal,” kata Syamsurizaldi.

Menurutnya, Pilwana merupakan salah satu wadah masyarakat nagari dalam menyelenggarakan amanat demokrasi. Oleh karena itu, seluruh pihak mempunyai tanggung jawab bersama untuk menjaga agar proses demokrasi tersebut berjalan dengan baik.

“Wadah kita berdemokrasi di nagari, tentu kita menjaga ini secara bersama-sama. Jalankan tugas dengan adil, jaga menjaga dan jangan sampai ada keberpihakan,” tegasnya.

Dari segi regulasi, lanjut Syamsurizaldi, pelaksanaan Pilwana Serentak Tahun 2026 memiliki landasan hukum yang jelas, salah satunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan desa, termasuk mekanisme pemilihan kepala desa/nagari.

Selain itu, Kabupaten Solok Selatan telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2024 tentang Wali Nagari, Perangkat Nagari dan Badan Permusyawaratan Nagari sebagai salah satu dasar penyelenggaraan pemerintahan dan pemilihan wali nagari.

Pilwana Serentak 2026 mengusung tema 'Wujudkan Demokrasi Nagari yang Berintegritas dan Bermartabat untuk Solok Selatan Makin Maju dan Sejahtera'. 

Tema tersebut mengandung pesan penting agar Pilwana tidak hanya dimaknai sebagai proses memilih pemimpin nagari, tetapi juga sebagai momentum membangun budaya demokrasi yang sehat di nagari .

Demokrasi harus berjalan secara terbuka dan adil, sementara integritas dan martabat harus menjadi nilai yang dijaga oleh seluruh pihak, baik penyelenggara, calon wali nagari, masyarakat maupun unsur pengamanan. .

“Demokratis, berintegritas dan berjanji. Itu yang harus kita wujudkan bersama dalam Pilwana ini,” tutupnya.

Pilwana Serentak dilaksanakan di 39 nagari di Solok Selatan, dimana pengumpulan suara dilakukan pada tanggal 7 Oktober mendatang. Saat ini tahapan Pilwana telah memasuki tahapan kelima yaitu pendaftaran. Verifikasi bakal calon wali nagari sedang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Wali Nagari (P2WN) Nagari. 

Padang Aro (Rangkiangnagari) - Peringatan Hari Olahraga Nasional Tahun 2026 diharapkan bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kebiasaan masyarakat untuk menjadi lebih aktif bergerak. Karena dengan masyarakat yang lebih aktif, terciptalah masyarakat yang bugar, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Bupati Solok Selatan H. Khairunas saat membacakan pidato Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mengatakan olahraga adalah investasi bangsa.

“Olahraga adalah investasi bangsa, bukan biaya. Investasi melalui olahraga berarti kita sedang membangun manusia Indonesia secara utuh: membentuk karakter yang disiplin, tangguh, sportif, dan memiliki daya juang, sekaligus berinvestasi pada kesehatan masyarakat agar semakin bugar, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” kata Khairunas dalam Upacara Peringatan Haornas tingkat Kabupaten Solok Selatan, Rabu (9/9/2026).

Untuk mendorong masyarakat yang kian aktif dan sehat, pemerintah diminta untuk menjadi motor penggerak bagi masyarakat dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari pembangunan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia.

Penyediaan ruang publik, fasilitas olahraga, jalur pejalan kaki dan jalur bersepeda, serta program olahraga yang mudah, murah, aman, dan inklusif. Kegiatan Car Free Day harus dimanfaatkan sebagai salah satu ruang untuk membangun budaya masyarakat aktif, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Dengan kegiatan yang dilaksanakan diharapkan dapat terjadi perubahan perilaku masyarakat yang semakin sehat dan sehat. 

Terakhir adalah membangun olahraga yang inklusif dan berkeadilan. Anak-anak, pemuda, perempuan dan laki-laki, lansia, masyarakat perdesaan dan perkotaan, serta penyandang disabilitas harus memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak dan berolahraga.

“Saya mengajak seluruh pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi olahraga, komunitas, keluarga, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bergerak bersama,” tegasnya. 


IKWI Pusat melaksanakan peringatan Hari Literasi di Gedung PWI Pusat Jakarta 

JAKARTA (Rangkiangnagari) - Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) terus mendorong penguatan kapasitas kepemimpinan dan organisasi melalui Hari Literasi IKWI 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Kepemimpinan Berintegritas, Bersinergi, dan Adaptif” ini, digelar secara hybrid melalui Zoom Meeting, Selasa (8/9/2026), dan diikuti sekitar 150 peserta IKWI dari seluruh Indonesia.

Kegiatan diawali dengan pengantar Hari Literasi dan Penguatan Organisasi IKWI, yang dipandu Moderator Rahmayulis, Sekretaris Jenderal IKWI. Sesi utama menghadirkan Jiean Ajiyanpi Novalia, sebagai pemateri yang mengupas pentingnya kepemimpinan yang berintegritas, mampu membangun sinergi, serta adaptif menghadapi perubahan.

Dalam paparannya, Jiean menekankan bahwa kepemimpinan literasi IKWI tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus bermuara pada gerakan organisasi yang aktif, mandiri, bersinergi, dan memberikan dampak.

Ia menyampaikan empat langkah utama untuk mengubah pemahaman menjadi gerakan. Yakni memahami aturan dan peran kepemimpinan, mengubah kebutuhan menjadi program, membangun tata kelola dan sinergi, serta membuktikan hasil melalui rencana kerja 90 hari.

“Dari pemahaman AD/ART hingga menggerakkan pengurus, membangun sinergi dan menghasilkan dampak,” menjadi salah satu penekanan dalam materi yang dipaparkan oleh Ketua Bidang Organisasi, Komunikasi dan Informasi IKWI Pusat ini.

Menurut Jiean, AD/ART harus menjadi kompas kepemimpinan, bukan sekadar dokumen administratif. Pemahaman terhadap AD/ART perlu diterjemahkan menjadi prioritas di daerah, dijalankan, dan kemudian diukur hasilnya.

Ketua IKWI, katanya, bukan sekadar pengurus, melainkan penggerak organisasi. Ketua yang kuat bukanlah ketua yang mengerjakan semuanya sendiri, tetapi pemimpin yang mampu membuat pengurus mengajak, melibatkan anggota, serta memastikan setiap program memberikan manfaat.

“Ketua IKWI yang kuat, membuat orang lain mampu bergerak, visioner, menggerakkan, melayani, bersinergi, dan memberdayakan,” ungkap Jiean yang pernah menjadi Ketua IKWI Provinsi Jawa Barat ini.

Ia juga menekankan lima karakter penting yang perlu menjadi kebiasaan kerja seorang pemimpin, yakni integritas, loyalitas, adaptif, sinergi, serta kepedulian.

Dalam menyusun program, pengurus daerah diberikan ruang untuk berkreasi sesuai kebutuhan masing-masing. Namun kreativitas tersebut tetap harus berada dalam kerangka AD/ART dan kebutuhan organisasi, antara lain dalam bidang komunikasi dan informasi, kaderisasi, literasi digital, serta administrasi.

Sepuluh Pesan Penting

Dari materi yang disampaikan Jiean, terdapat 10 pesan yang diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh para peserta. Pertama, AD/ART merupakan kompas organisasi, bukan beban administrasi. Kedua, ketua tidak harus menjadi orang yang paling sibuk, tetapi harus mampu menggerakkan pengurus. Ketiga, program tidak harus banyak, tetapi harus relevan dan bermanfaat.

Keempat, setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga program dapat disesuaikan. Kelima, kolaborasi merupakan kekuatan organisasi. Keenam, administrasi yang baik membangun kepercayaan.

Ketujuh, anggota merupakan sumber kekuatan organisasi. Kedelapan, kaderisasi harus dimulai sejak sekarang. Kesembilan, evaluasi dilakukan untuk menemukan perbaikan, bukan mencari kesalahan. Kesepuluh, ukuran keberhasilan organisasi adalah semakin aktif, mandiri, bersinergi, dan bermanfaat.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam komitmen kepemimpinan IKWI: memahami, menggerakkan, bersinergi, memberdayakan, dan menyiapkan penerus.

“Saya tidak harus melakukan semuanya. Saya harus membuat ibu-ibu bergerak bersama,” menjadi salah satu pesan kunci yang disampaikan Jiean dalam sesi tersebut.

Mulai dari diri sendiri

Sementara itu Ketua Umum IKWI Indah Kirana, mengatakan budaya literasi juga harus dibangun mulai dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi lahirnya pemimpin masa depan. Dari keluarga, anak-anak belajar mengenai kejujuran, tanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menggunakan informasi dan teknologi secara bijaksana.

“Kepemimpinan sesungguhnya tidak selalu dimulai dari ruang rapat, jabatan, atau organisasi. Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri dan dari rumah kita masing-masing,” katanya.

Indah menekankan bahwa integritas, loyalitas, sinergi, dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting bagi pemimpin di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.

Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, menurut Indah, membuat pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan memimpin. Seorang pemimpin juga harus memiliki nilai-nilai yang kuat.

Indah menjelaskan, integritas merupakan fondasi utama kepemimpinan. Tanpa integritas, kepemimpinan akan kehilangan kepercayaan. Pemimpin berintegritas harus mampu menjaga kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, serta komitmen dalam setiap tindakan.

Ia juga mengaitkan literasi dengan kepemimpinan di era digital. Literasi, kata Indah, tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menyaringnya, menggunakannya secara bijaksana, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang cepat bereaksi tetapi lambat memahami. Jangan sampai kita mudah percaya pada suatu informasi, tetapi malas melakukan verifikasi,” tegasnya.

Indah berharap Hari Literasi IKWI 2026 tidak berhenti sebagai forum untuk mendengarkan paparan, tetapi menjadi ruang untuk berpikir, berdialog, berbagi pengalaman, sekaligus melakukan refleksi bagi seluruh anggota IKWI.

Ia optimistis, apabila nilai integritas, loyalitas, sinergi, dan kemampuan beradaptasi terus ditumbuhkan, IKWI akan semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi anggota, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta aktif menyampaikan pertanyaan, baik secara langsung maupun melalui kolom chat Zoom.

Kegiatan kemudian ditutup dengan komitmen bersama Ketua IKWI se-Indonesia, pembacaan Deklarasi/Komitmen Literasi Kepemimpinan IKWI oleh Ketua Umum PP IKWI. Hari Literasi IKWI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara pengurus pusat dan daerah sekaligus meneguhkan arah organisasi: aktif, mandiri, bersinergi, dan memberikan manfaat.

Semangat tersebut dirangkum dalam satu pesan sederhana: IKWI yang kuat tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh seluruh keluarga besar IKWI yang mau bergerak, berjuang, dan menjaga organisasi bersama. (*)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.