Penuh Antusias FGD Buku Pembelajaran Bencana Alam Meteorologi Sumbar
Dr. Dody Ruswandi MSCE mewakili Kepala BNPB pada FGD Buku Pembelajaran Bencana alam Hidrometeorologi
Padang, Rangkiang Nagari - Tim Penyusunan buku Pembelajaran Bencana Alam Hidrometeorologi Sumatera Barat 2025 melaksanakan Fokus Grup Dikusi (FGD) guna menampung masukan, saran dan bahkan kritik dari pemangku kepentingan di Sumatera Barat, Senin (26/10).
Peserta FGD foto bersama selesai pembahasan materi penulisan
Hadir pimpinan dan staf kantor BPBD Sumatera Barat dan BPBD seluruh kabupaten dan kota di daerah ini. Selain unsur BPBD juga hadir staf kantor PU, kantor Pemukiman, lingkungan Hidup serta instansi terkait lainnya.
Wakil Direktur I Dr Ir Rusfidra SPt MSi membuka acara FGDAcara FGD ini dibuka Wakil Direktur I Dr. Ir. Rusfidra, SPt, MSi. Ia mengharapkan kegiatan ini membawa hasil maksimal dan bisa memberikan manfaat kepada pemangku kebencanaan di seluruh Indonesia.
Penyusunan buku Pembelajaran Bencana alam Hidrometeorologi Sumatera Barat, dibuat berdasarkan peristiwa bencana yang terjadi pada akhir tahun 2025. Tepatnya antara 21 hingga 29 Nopember 2025, kemudian disusul awal Desember 2025.
Bencana ini sangat luar biasa. Meluluhlantakan tiga wilayah provinsi di Sumatera, Aceh, Sumut dan Sumatera Barat. Sesuai uraian dalam buku ini, hujan deras dalam durasi yang lama adalah salah satu penyebab terjadinya banjir dan galodo di Sumatera Barat.
Dr Basril Basyar menjelaskan pada bagian kedua dari materi penulisanHujan deras berawal ketika mulai terbentuknya awan siklon senyar di dekat selat malaka yang kemudian terus bergerak ke daratan Sumatera bahagian Utara dan menurunkan curah hujan yang begitu besar.
Diperkirakan curah hujan mencapai mencapai 300 mm. Padahal pada kondisi normal hanya 75 sampai 100 mm. Akibatnya sebanyak 192 jiwa melayang dan ratusan ribu rumah hancur dan hanyut. Puluhan jembatan putus dan masyarakat terdampak ribuan orang serta tinggal di pengungsian.
Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk melakukan dokumentasi terhadap seluruh peristiwa, kemudian dianalisis dan hasilnya dijadikan pembelajaran untuk masa mendatang. Seperti diketahui bahwa setiap bencana itu selalu terjadi berulang.
Buku sekitar 200 halaman, disusun tim dosen kebencanaan Universitas Andalas, Dr apt Rustian SSi, MSi, Sestama BNPB, Prof Hakam, Prof Fauzan, Pro Werry Darta Taifur, Prof Bambang Istijono, Prof apt Henny Lucida, Prof Yonariza, Prof Asrinaldi, Dr Basril Basyar, Drs Rinaldi Eka Putra MSi dan Tim Riset Asisten.
Pemaparan ringkasan buku mulai bab 1-5 disampaikan Prof Fauzan dan dilanjutkan bab VI-X oleh Dr Basril Basyar. Moderator Drs Rinalda Eka Putra.
Dr. Ir. Dody Ruswandi MSCE mewakili Kepala BNPB dalam sambutan menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku ini. Dody memuji tim Unand atau Sumbar yang selalu di depan, karena pada waktu yang sama Sumbar atau Universitas Andalas sudah masuk ke tahap akhir.
Tiga daerah yang didera bencana alam hidrometeorologi ditugaskan membuat buku Pembelajaran untuk masing-masing daerah, Aceh, Sumut dan Sumbar.
Dody juga menyampaikan penghargaan atas antusiasme peserta, sangat luar biasa menyambut lahirnya Buku Pembelajaran Bencana alam hidrometeorologi ini. Ini menandakan bahwa buku ini adalah tanggung jawab dan milik kita bersama.
Banyak masukan yang disampaikan peserta, mulai sinkronisasi pendataan, hingga pendalaman analisis peristiwa. Dody menjelaskan bahwa Bencana alam hidrometeorologi yang disebabkan siklon senyar adalah pertama di Indonesia dan terjadi di Sumatera, katanya.
Dulu memang ada Badai Siklon Tropis Seroja, bencana alam dahsyat yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4–5 April 2021.
Berbeda dengan Siklon Tropis Seroja, bencana Sumatera lebih dahsyat lagi. Oleh sebab itu Dody meminta Tim untuk menambahkan materi Climate change (perubahan iklim) dalam buku ini.
Dody Ruswandi juga menanggapi fenomena korban bencana yang tak betah di tempat hunian sementara dan tetap. Kejadian ini hampir sama di berbagai daerah di Indonesia. Jangan sekali-kali kita hanya memindahkan korban ke tempat lain, tanpa diiringi dengan keberlanjutan kehidupannya (livelihood).
Bahkan Sestama BNPB (2014-2019) ini menyarankan bahwa melakukan relokasi terhadap korban bencana hendaklah menjadi pilihan terakhir.
Penyusunan Buku Pembelajaran ini adalah digagas BNPB - SIAP SIAGA dan Universitas Andalas. (*01).








