Dharmasraya (Rangkiangnagari) - Pada sebuah pagi yang masih menyisakan kabut dingin di Kabupaten Tanah Datar, seorang ibu muda duduk memeluk kedua anaknya di depan bangunan yang tinggal separuh. Rumah itu tak lagi punya dinding utuh. Atapnya seperti lembaran seng yang dirobek paksa. Di balik matanya yang sayu, ada kisah panjang tentang malam yang mengubah segalanya.
“Yang penting kami selamat,” bisiknya pelan, seolah menenangkan dirinya sendiri.
Ia bukan satu-satunya. Di banyak daerah di Sumatera Barat, Tanah Datar, Agam, Padang Panjang, dan sekitarnya warga masih berjuang menata hidup kembali setelah bencana datang bertubi-tubi. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan longsor meluluhlantakkan bangunan, melumpuhkan aktivitas, dan menyisakan trauma yang belum selesai.
Di tengah kepiluan itu, datang rombongan kecil dengan rompi kuning yang mencolok. Mereka bukan pejabat yang membawa protokol ketat. Mereka bukan pula relawan sesaat yang datang hanya untuk foto-foto lalu pergi. Mereka adalah orang-orang yang membawa amanah dari masyarakat Dharmasraya amanah berupa kepedulian.
Mereka adalah Tim Baznas Kabupaten Dharmasraya, yang datang dengan langkah tenang, tapi membawa harapan besar.
Kedatangan Baznas bukanlah perjalanan biasa. Ada proses panjang di belakangnya, menghimpun zakat dan infak masyarakat, mengelola hingga tepat sasaran, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang diamanahkan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Total bantuan yang mereka bawa mencapai Rp80 juta, disalurkan langsung ke Baznas kabupaten/kota yang terdampak bencana. Selain itu, mereka membawa 1 ton beras, yang siap dibagikan kepada warga yang kini hidup di pengungsian maupun bertahan di rumah tanpa kepastian makanan harian.
Jumlah itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya dampak bencana. Tetapi di balik angka itu, ada sumbangan pedagang kecil yang menyisihkan beberapa ribu rupiah dari hasil jualan. Ada zakat profesi seorang guru honorer. Ada infak diam-diam seorang perantau yang tak pernah mau menyebut nama. Dan ada doa panjang dari mereka yang berharap bantuan itu menjadi cahaya bagi saudaranya di wilayah yang dilanda musibah.
“Ini bukan soal besar kecilnya bantuan,” ujar
Wakil ketua1 Bidang Pengumpulan Zakat Infaq Sedekah (ZIS) Ridwan Syarif, S.Ag, Datuak Majo Kayo, Baznas Dharmasraya saat menyerahkan bantuan. “Ini soal rasa persaudaraan. Soal meyakinkan bahwa kita tidak membiarkan mereka menghadapi bencana sendirian.” Kalimat sederhana itu sering menjadi penguat bagi warga yang menerima.
Rombongan Baznas Dharmasraya berangkat bersama Pemerintah Daerah, menyusuri jalur yang masih menyimpan sisa-sisa bencana. Di beberapa titik, tanah longsor masih tampak seperti sobekan luka di tubuh bumi. Air bah yang sudah surut meninggalkan bau lumpur yang menyengat, bercampur dengan kesedihan yang sulit digambarkan.
Saat mereka tiba di salah satu lokasi, beberapa anak berlarian mendekat. Bukan untuk berebut bantuan mereka hanya ingin memastikan bahwa ada orang yang peduli.
“Abang dari mana?” tanya seorang bocah, kakinya masih belepotan lumpur. Dari Dharmasraya, jawab Ridwan Syarif dengan senyum hangat. “Jauh ya. Terima kasih sudah datang,” katanya polos.
Kalimat itu menjadi energi tersendiri bagi tim yang datang. Karena dalam bencana, kehadiran sering kali lebih berarti dari sekadar barang bantuan. Kehadiran mengirim pesan, kami melihat derita, kami peduli, dan kami datang karena masyarakat yang kenak musibah bagian dari kami.
Baznas memiliki pendekatan unik mereka tak hanya menyerahkan bantuan melalui simbolis dan foto seremonial, tetapi memastikan penyaluran dilakukan melalui Baznas daerah terdampak agar tepat sasaran.
Bantuan uang tunai diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, pembelian bahan makanan, obat-obatan, pakaian layak, dan kebutuhan darurat lain yang tidak bisa ditunda.
Sementara 1 ton beras menjadi penyelamat bagi banyak keluarga. Di tiap kamp pengungsian, beras adalah simbol harapan sederhana bahwa esok masih ada sesuatu yang bisa dimakan.
Di salah satu tenda pengungsian, seorang lelaki paruh baya menatap karung beras itu lama, seakan memikirkan panjangnya perjalanan yang dilalui hanya untuk sampai kepadanya.
“Ini lebih dari sekadar beras,” katanya pelan. “Ini carito saling manyokong urang awak.”
Baznas bukan lembaga keuntungan. Mereka bekerja dengan landasan iman dan amanah. Setiap bantuan yang disalurkan adalah hasil dari kepercayaan masyarakat. Dan kepercayaan itu tidak boleh dikhianati.
Karena itu, saat musibah terjadi, Baznas Dharmasraya tidak menunggu instruksi. Mereka bergerak cepat. Mereka tahu bahwa dalam bencana, satu hari saja keterlambatan bisa berarti satu keluarga terpaksa tidur dalam kelaparan atau kedinginan.
Gerak cepat ini bukan hanya soal profesionalitas, tetapi juga refleksi dari budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi solidaritas dan gotong royong.
Di ranah adat, dikenal pepatah,
“Sakik samo diraso, hilang samo dicari.”
Yang artinya, ketika satu terluka, semuanya ikut merasakan, ketika satu kehilangan, semuanya ikut berusaha mencarikan solusi.
Maka, bantuan Baznas Dharmasraya adalah penjelmaan modern dari filosofi lama itu falsafah yang tetap hidup melintasi zaman.
Di akhir setiap kunjungan, Baznas Dharmasraya selalu menyampaikan pesan sederhana. Ayo teruskan kebaikan ini. Karena mereka sadar, tugas kemanusiaan tidak pernah selesai hanya dengan satu kunjungan atau satu penyaluran.
Setiap bencana yang terjadi adalah pengingat bahwa manusia tidak pernah bisa berdiri sendiri. Ada kalanya kita menjadi pihak yang memberi, ada kalanya menjadi pihak yang menerima.
Zakat, infak, dan sedekah adalah jembatan yang menyambungkan keduanya menghubungkan hati yang kaya empati dengan mereka yang sedang diuji.
“Bencana bisa menimpa daerah mana saja. Hari ini mereka yang tertimpa, esok bisa jadi kita. Maka, selama kita mampu, bantulah. Karena memberi tidak pernah membuat seseorang jatuh miskin,” begitu pesan yang disampaikan Ardios Monti Malano Wakil ketua Bidang Administrasi, Sumber Daya Manusia dan Umum Baznas.
Di salah satu titik terakhir kunjungan, rombongan Baznas berpamitan kepada warga. Seorang ibu tua menggamit tangan Rusmiati, Wakil Ketua Bidang Keuangan Baznas, dan Ia berkata lirih. “Anak-anak datang baralek duka kami. Semoga Allah yang membalasnya.”
Kata-kata itu menggambarkan bahwa di balik bencana, masih ada ruang luas tempat manusia saling menguatkan.
Baznas Dharmasraya pulang dengan hati yang berat, tetapi juga lega. Berat karena menyaksikan luka-luka yang masih menganga. Lega karena mereka tahu apa yang mereka bawa telah mengisi sebagian kekosongan itu.
Bantuan mereka mungkin tidak dapat mengembalikan rumah yang hilang. Tidak dapat menghapus trauma. Tidak dapat mengubah takdir. Tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih penting.
Bahwa ketika bencana meruntuhkan segalanya, manusia masih bisa bangkit bersama.(St)

