Payakumbuh (Rangkiangnagari) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Payakumbuh meningkatkan kesiapsiagaan bencana bagi kelompok rentan dengan mengadakan sosialisasi mitigasi bencana dan simulasi evakuasi bagi guru dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) B Aua Kuning, Payakumbuh Selatan.
Kegiatan ini sebagai tindak lanjut atas Arah Wali Kota, Payakumbuh, Zulmaeta dalam mitigasi bencana yang inklusif yang merupakan upaya pengurangan risiko bencana yang adil, setara bagi masyarakat. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan (disabilitas, lanjut usia, anak-anak, perempuan) sebagai subjek aktif. Dimana fokusnya adalah memastikan aksesibilitas informasi, fasilitas, dan perencanaan bagi semua orang tanpa kecuali.
“Kegiatan ini sangat penting dan spesifik karena siswa SLB sebagai penyandang disabilitas memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik yang membutuhkan pendekatan khusus dalam penanggulangan bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh, Devitra, Rabu (08/04/2026).
Ia mengatakan, penyandang disabilitas sering menghadapi hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan, terutama dalam situasi darurat.
“Dalam kondisi bencana, mereka berpotensi mengalami kesulitan untuk merespons dengan cepat. Oleh karena itu, kami hadir untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan dasar penyelamatan diri,” ujarnya.
Devitra tekanan, edukasi mitigasi bencana harus disertai praktik langsung agar lebih efektif dan mudah dipahami.
“Kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga melakukan simulasi evakuasi agar siswa dan guru terbiasa serta tidak panik saat menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
“Tujuan pada akhirnya adalah membangun kemandirian dan kesiapan warga sekolah, sehingga mereka dapat bertindak cepat dan tepat sesuai dengan kemampuan masing-masing,” tambahnya.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 6 April 2026 tersebut diikuti sebanyak 50 siswa dan 12 guru, dengan durasi pelaksanaan selama tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB.
Narasumber dari Tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kota Payakumbuh, Meri Handayani, mengatakan materi disusun secara sederhana dan aplikatif agar mudah dipahami peserta.
“Materi yang kami sampaikan meliputi pengenalan kelompok disabilitas dalam penanggulangan bencana, penanganan kelompok berisiko tinggi, serta penyusunan rencana darurat yang ramah disabilitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, simulasi mitigasi bencana itu menjadi bagian krusial dalam kegiatan tersebut.
“Kami melatih evakuasi mandiri dan evakuasi internal di lingkungan sekolah, sehingga peserta memiliki gambaran nyata langkah-langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi,” katanya.
Sementara itu, Kepala SLB B Aua Kuning, Silvia Witvita, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut dan menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan sekolah.
“Kami sangat terkesan karena kegiatan ini tergolong baru bagi warga sekolah kami, namun memberikan manfaat yang besar dalam meningkatkan pemahaman kebencanaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga meningkatkan kesiapan seluruh warga sekolah.
“Siswa lebih menjadi paham, sementara guru juga semakin siap dalam mendampingi dan mengarahkan mereka pada kondisi darurat,” katanya.
Ia menambahkan, pihak sekolah berencana menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin.
“Kami akan melakukan agar kegiatan seperti ini dilaksanakan setiap tiga bulan sekali agar kesiapsiagaan tetap terjaga,” ujarnya.
Selain itu, sekolah juga akan mewujudkannya dengan langkah konkret di lingkungan internal.
“Kami berencana menyusun jalur evakuasi sesuai standar, mengingat sebagian siswa tinggal di asrama, sehingga aspek keselamatan menjadi prioritas utama,” tutupnya. (Rn)


