Bukan Sekadar Tanam Pohon, Wabup Pasaman Minta Kepala Sekolah Jadi Motor Sekolah Hijau

Pasaman (RangkiangNagari) - Wakil Bupati Pasaman H. Parulian Dalimunthe menegaskan, gerakan sekolah hijau tidak boleh dimaknai sebatas menanam pohon atau mempercantik halaman sekolah. Lebih dari itu, sekolah hijau harus menjadi gerakan membangun budaya bersih, sehat, hemat energi dan peduli lingkungan yang dimulai dari keteladanan kepala sekolah.

Pesan tersebut disampaikan Wabup H. Parulian Dalimunthe saat membuka Seminar “Peran Kepala Sekolah dalam Menciptakan Sekolah Hijau di Kabupaten Pasaman”, yang digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati Pasaman, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Pasaman, Asisten, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman, para pengawas SD dan SMP, kepala sekolah SD dan SMP, serta pengurus Kelompok Kerja Sekolah Dasar kecamatan se-Kabupaten Pasaman. Total peserta seminar mencapai 156 orang.

Wabup H. Parulian Dalimunthe mengatakan, konsep sekolah hijau merupakan bagian dari upaya mendukung visi Kabupaten Pasaman, “Terwujudnya Pasaman Bangkit yang Berkarakter, Maju dan Berkelanjutan.”

Menurutnya, sekolah tidak hanya memiliki tugas meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk karakter, kreativitas, kepedulian sosial serta kepedulian terhadap lingkungan.

“Sekolah hijau bukan sekadar sekolah yang memiliki banyak pohon. Sekolah hijau adalah sekolah yang mampu membangun budaya peduli lingkungan dalam seluruh aktivitasnya,” ujar H. Parulian.

Wabup menilai kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan budaya di lingkungan pendidikan. Sebagai pemimpin pembelajaran sekaligus pemimpin perubahan, kepala sekolah harus mampu menjadi contoh bagi guru, tenaga kependidikan dan peserta didik.

Budaya menjaga kebersihan, memilah sampah, menghemat air dan listrik hingga merawat tanaman, menurutnya, akan lebih mudah tumbuh apabila dimulai dari keteladanan pimpinan sekolah.

Karena itu, Wabup mendorong sekolah memperkuat sejumlah langkah utama, mulai dari membangun budaya bersih dan sehat, pengelolaan sampah, penghijauan sebagai bagian dari pembelajaran, penghematan air dan energi, hingga mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam proses belajar mengajar.

Wabup juga menekankan agar pendidikan lingkungan tidak berhenti pada teori di ruang kelas. Peserta didik perlu diberikan ruang untuk mengamati persoalan lingkungan, terlibat dalam aksi nyata, memecahkan masalah serta menghasilkan karya.

“Lingkungan sekolah dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi peserta didik,” katanya.

Menurut Wabup, pendekatan tersebut sangat relevan dengan kondisi Kabupaten Pasaman yang memiliki kekayaan alam berupa hutan, sungai, lahan pertanian, perkebunan, sumber air dan keanekaragaman hayati.

Generasi muda Pasaman, lanjutnya, perlu memahami bahwa alam bukan hanya sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Muslim, M.Pd., selaku ketua pelaksana kegiatan, mengatakan seminar tersebut diikuti 156 peserta yang berasal dari unsur pengawas SD dan SMP, kepala sekolah SD dan SMP, serta pengurus Kelompok Kerja Sekolah Dasar kecamatan.

Menurut Muslim, kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para kepala sekolah dan unsur pendidikan untuk memahami bahwa program sekolah hijau membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah.

“Peserta kegiatan ini terdiri dari pengawas SD dan SMP, kepala sekolah SD dan SMP serta pengurus kelompok kerja sekolah dasar kecamatan, dengan total 156 peserta,” jelas Muslim.

Ia menambahkan, seminar menghadirkan Ridwan Tulus, pendiri Green Tourism Institute, sebagai narasumber. Kehadiran narasumber diharapkan memberikan wawasan dan perspektif praktis mengenai pengelolaan lingkungan serta bagaimana nilai-nilai keberlanjutan dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan.

Wabup H. Parulian Dalimunthe berharap seminar tersebut tidak berhenti pada diskusi maupun dokumen, tetapi menghasilkan aksi nyata di masing-masing sekolah.

Ia menegaskan, gerakan sekolah hijau tidak harus dimulai dengan anggaran besar. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Satu sekolah, satu komitmen; satu kelas, satu aksi; satu siswa, satu kebiasaan baik; dan satu kepala sekolah menjadi teladan perubahan,” tegasnya.

Wabup meyakini, apabila kebiasaan tersebut diterapkan secara bersama oleh sekolah-sekolah di Kabupaten Pasaman, langkah kecil tersebut dapat berkembang menjadi gerakan besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga berkarakter dan peduli terhadap lingkungan.

“Dari sekolah yang hijau, kita lahirkan generasi yang peduli. Dari generasi yang peduli, kita bangun masyarakat yang berkarakter,” pungkas H. Parulian Dalimunthe.

Labels: , ,
[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.