Latest Post

 

PADANG (RangkiangNagari) – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah III Provinsi Sumbar masih menunggu petunjuk dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terkait rencana pengoperasian Terminal Type A Anak Air di Kota Padang.Sebelumnya peresmian sempat direncanakan pada Idul Fitri 2021.

Hal ini diungkapkan Kepala BPTD Wilayah III Provinsi Sumbar, Deny Kusdyana, Rabu (31/3) di Padang.Deny mengungkapkan, meski pembangunan Terminal Type A Anak Air telah rampung. Namun, saat ini perlu dilakukan penyempurnaan terhadap terminal tersebut. Penyempurnaan bukan perbaikan, tapi penambahan kekurangan fasilitas terminal.

Seperti, bagian emplasemen jalan di depan terminal yang membuat bus yang masuk, terkendala sewaktu melakukan manuver.“Kondisi ini terjadi karena di depan terminal ada tanggul badan jalan, kita tidak bisa apa-apa karena tekendala kewenangan. Di depan juga ada sungai yang perlu penanganan yang tidak sederhana. Apalagi untuk penyempurnaan ini juga belum masuk dalam isi kontrak kemarin,” ungkap Deny, kemarin.

Diakuinya, dengan emplasemen yang ada sekarang, bus-bus besar terbatas melakukan manuver masuk terminal. Terutama bus yang ukuran 12 meter model lama, dengan pergerakan beloknya yang terbatas.Sementara, ada bus yang ukuran 13 meter bisa belok sekali saja bisa masuk, dengan kecanggihan tekhnologinya.

Penyempurnaan lainnya, emplasemen bagian depan untuk kendaraan pribadi juga belum menyambung. Sedangkan yang akan bermanuver di bagian depan juga banyak kendaraan besar.Dikuatirkan akan menimbulkan kesemrawutan jika bersamaan dengan masuknya kendaraan pribadi ke terminal. Jika ini terjadi maka membuat pengguna jasa tidak mau masuk ke terminal.

Termasuk juga penyempurnaan bagian jalan utama menuju keluar-masuk terminal yang masih terhambat. Deny mengungkapkan, dirinya sudah berkoordinasi dengan Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumbar.

Dari hasil koordinasinya, pihak Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumbar menyatakan kesiapannya melebarkan sisi rel kereta api di depan Jalan Adinegoro Padang.

 

#Ryan

JAKARTA (RangkiangNagari) – Cockpit Voice Recorder atau CVR Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 ditemukan. Hal ini dipastikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi saat memberiksn keterangan pers di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/3).“Alhamdulillah, Selasa (30/3) malam pukul 20.00 WIB CVR Sriwijaya Air SJ-182 ditemukan di tempat yang tidak jauh dari tempat ditemukannya FDR (Flight Data Recorder),” ungkap Menhub.

Dalam kesempatan itu, Menhub memberikan apresiasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Badan SAR Nasional, TNI, Polri, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, jajaran Kementerian Perhubungan, instansi terkait, dan para relawan serta masyarakat Kepulauan Seribu yang telah bahu-membahu berupaya secara maksimal dalam operasi pencarian baik korban, puing-puing pesawat, hingga kotak hitam FDR dan CVR.Menurutnya, penemuan CVR ini adalah sebagai tindak lanjut operasi pencarian dimana pada 12 Januari 2021 FDR pesawat Sriwijaya Air SJ-182 telah ditemukan. “CVR adalah perekam audio yang mencatat rekaman percakapan pilot dan suara-suara yang timbul di area cockpit pesawat,’ jelas Menhub.

Dikatakan, nantinya data yang ada dalam CVR akan melengkapi data yang telah diperoleh sebelumnya dalam FDR. “Data itu tentu berharga dan KNKT sudah menemukan banyak hal dari FDR. Investigasi akan paripurna apabila dilakukan penggabungan antara apa yg terjadi di cockpit yaitu pembicaraan antara pilot dan copilot dengan apa yang ada di FDR,” paparnya.Menhub pada kesempatan tersebut menyerahkan temuan CVR kepada Ketua KNKT untuk investigasi lebih lanjut. Ia berharap KNKT dapat melakukan investigasi secara mendalam dan segera menyampaikan hasil investigasi.

“Harapan kami KNKT bisa melakukan suatu penelitian yang detail dan menyampaikan apa yang ditemukan dalam CVR ini. Saya harapkan ketua KNKT bisa melakukan dengan baik,” pinta Menhub.Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan upaya pencarian VCR ini menggunakan kapal penghisap lumpur. Hal ini dilakukan karena lokasi pencarian CVR seluas 90 x 90 meter persegi ini dipenuhi lumpur.

“CVR ini nanti akan kita bawa ke laboratorium dan kita akan proses untuk pembacaan yang akan memerlukan waktu kurang lebih antara 3 hari sampai 1 minggu. Setelah itu akan kita gabungkan dengan apa yang kita temukan di FDR dengan apa yang terjadi di cockpit seperti yang terekam dalam CVR. Tanpa CVR kasus Sriwijaya SJ-182 ini akan sangat sulit ditentukan penyebabnya,” terangnya.Soerjanto menegaskan, pihaknya akan menyampaikan hasil investigasi dan rekomendasi mengenai penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Dengan adanya rekomendasi dari KNKT diharapkan kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

“Kami dari pemerintah memang serius melakukan investigasi dan sesuai dengan pesan Bapak Presiden untuk membuka se-transparan mungkin apa yang menjadi penyebab agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari,” tambah Soerjanto. 


#Ryan

KETAPING (RangkiangNagari) – PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) Kantor Cabang Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh Pengguna Jasa Bandara, Penumpang, mitra kerja dan semua stakeholder.Permintaan maaf diajukan atas matinya listrik dari pukul pukul 02.30 WIB sampai pukul 06.25 WIB, Rabu (31/3).

“Kami menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan dan dan kondisi yang terjadi,” kata Humas PT AP II BIM, Fendrick Sondra dalam siaran persnya.Fendrik mengatakan, pada kondisi normal, sistem kelistrikan di BIM memiliki akses khusus yang diberikan oleh PLN/ layanan Premium.

Berdasarkan hasil pengecekan oleh Tim Teknis AP II, hal itu terjadi dikarenakan gangguan pada panel BAS (Building Automatic System) di ruang kontrol penghubung sistem kelistrikan bandara kebanggaan masyarakat Sumbar tersebut.“Alhamdulillah, pukul 06.25 WIB tadi pagi (kemarin-Red), aliran listrik di BIM sudah mulai normal dan layanan di bandara telah berjalan kembali,” katanya.

Kejadian itu lanjutnya dapat dikatakan force majeure, karena untuk maintenance dan perawatan berkala di BIM setiap hari sistem penghubung selalu dinyalakan setiap enam jam sesuai dengan SOP untuk dihubungkan dengan Generator Pembangkit Listrik Cadangan BIM.

 

#Ryan

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.