Program study of Plant Protection, Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Universitas Andalas, Padang, Indonesia
Limbah kulit buah yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata menyimpan potensi besar bagi dunia pertanian. Tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Andalas berhasil mengembangkan ekoenzim dari kulit buah-buahan sebagai alternatif pestisida nabati yang ramah lingkungan untuk mengendalikan serangga vektor dan penyakit virus kuning pada tanaman terung.
Penelitian yang diketuai oleh Lailatun Najmi, S.Si., M.Si. bersama tim peneliti dari Departemen Proteksi Tanaman Universitas Andalas ini menjadi salah satu inovasi dalam pemanfaatan limbah organik sekaligus mendukung penerapan pertanian berkelanjutan. Penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan ekoenzim yang dihasilkan dari fermentasi kulit buah, khususnya kulit nanas dan kulit semangka, sebagai agen pengendali alami terhadap kutu kebul (Bemisia tabaci), serangga vektor utama penyebar penyakit virus kuning pada tanaman terung.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kedua ekoenzim memiliki kualitas yang sangat baik. Kandungan unsur hara seperti karbon, nitrogen, fosfor, dan kalium memenuhi standar mutu pupuk organik berdasarkan SNI 19-7030-2004. Ekoenzim kulit nanas bahkan memiliki kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium yang lebih tinggi dibandingkan ekoenzim kulit semangka, sehingga berpotensi tidak hanya sebagai pestisida nabati, tetapi juga sebagai pupuk organik cair yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman.
Keunggulan penelitian ini semakin diperkuat melalui analisis menggunakan teknologi Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ekoenzim mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti caryophyllene, anethole, linalool, α-terpineol, borneol, vanillin, dan berbagai senyawa fenolik. Senyawa-senyawa tersebut telah dikenal memiliki aktivitas sebagai repelan, antifeedant, insektisida nabati, hingga antimikroba yang berpotensi menghambat perkembangan serangga hama sekaligus menekan penyebaran penyakit tanaman.
Menariknya, masing-masing jenis ekoenzim menunjukkan karakteristik yang berbeda. Ekoenzim kulit semangka memiliki keragaman senyawa terpenoid yang lebih tinggi sehingga diperkirakan lebih efektif sebagai penolak dan penghambat aktivitas kutu kebul. Sementara itu, ekoenzim kulit nanas memiliki kandungan caryophyllene dan anethole yang relatif tinggi, yang berpotensi memperkuat ketahanan tanaman sekaligus memberikan perlindungan terhadap infeksi patogen sekunder.
Menurut Ketua Peneliti, Lailatun Najmi, inovasi ini merupakan langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis. Penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari resistensi hama, pencemaran lingkungan, hingga residu pada hasil pertanian. Oleh karena itu, ekoenzim berbahan dasar limbah organik diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan.
Selain memberikan nilai tambah terhadap limbah kulit buah, penelitian ini juga membuka peluang pengembangan produk bioinsektisida lokal berbasis sumber daya hayati Indonesia. Pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan pertanian ramah lingkungan yang saat ini menjadi perhatian dunia.
Saat ini penelitian masih memasuki tahap pengujian efektivitas terhadap populasi kutu kebul dan insidensi penyakit virus kuning pada tanaman terung. Tim peneliti optimistis bahwa hasil penelitian lanjutan akan semakin memperkuat bukti ilmiah mengenai efektivitas ekoenzim sebagai bioinsektisida sekaligus penginduksi ketahanan tanaman.
Melalui inovasi ini, Universitas Andalas kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga mampu menjawab tantangan nyata di sektor pertanian. Ekoenzim dari limbah kulit buah menjadi bukti bahwa solusi inovatif bagi pertanian masa depan dapat lahir dari bahan-bahan sederhana yang selama ini sering terabaikan.


