Begitu Ny. Kurniati tiba di area parkir, para siswa yang sedang mengikuti Training Center langsung bergerak cepat membentuk formasi disekitarnya. Dengan seragam olahraga yang serasi, mereka memberikan penghormatan khas Paskibraka, menghadirkan suasana yang spontan, rapi, sekaligus penuh semangat kebangsaan.
Para siswa ini berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Solok dan sedang menjalani pelatihan intensif sebagai tugas persiapan pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penyambutan usai, mereka kemudian mengiringi Ny. Kurniati jogging mengelilingi lintasan GOR Batu Batupang, sebelum akhirnya bersama-sama mengikuti senam sehat.
Momen tersebut ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Ny. Kurniati. Kepada Expos Sumbar, ia mengaku menyaksikan melihat wajah-wajah para siswa yang tampak lelah namun tetap bersemangat. Di balik kulit yang mulai menggelap akibat latihan di bawah terik matahari, ia melihat keteguhan generasi muda yang sedang ditempa.
“Keringat yang mengalir deras dan menetes di dagu mereka, secara spontan memperlakukan seorang ibu melihat anaknya seperti itu langsung membuat hati saya bergetar,” ujar Ny. Kurniati.
Ia bahkan mengaku beberapa kali tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah para siswa. Menurutnya, di balik kelelahan itu tersimpan proses pembentukan karakter yang sangat penting bagi masa depan mereka.
Ny. Kurniati memahami bahwa latihan berat dengan disiplin ketat dan intensitas fisik tinggi selama 17 hari masa karantina merupakan bagian dari proses pembentukan mental dan karakter. Ia menegaskan bahwa Paskibraka bukan hanya soal baris-berbaris, tetapi juga tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketahanan diri.
“Latihan ini memang berat, disiplin yang diterapkan juga keras dan intensitas fisiknya tinggi.Tetapi semua itu adalah proses untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih disiplin,” tuturnya.
Lebih jauh lagi, ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama masa karantina tidak berhenti setelah tugas pengibaran bendera selesai. Menurutnya, pengalaman ini harus menjadi bekal hidup yang membentuk karakter kuat di masa depan.
"Anak-anak ini bukan hanya sedang dilatih menjadi Paskibraka. Mereka sedang ditempa untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Mudah-mudahan apa yang mereka jalani selama karantina ini menjadi bekal dalam menentukan pola hidup dan prinsip hidup ke depan," ungkapnya.
Bagi Ny. Kurniati, setiap tetes keringat, rasa lelah, dan disiplin ketat yang dijalani para siswa hari ini adalah bagian dari perjalanan berharga. Sementara bagi Solok Sehat, kehadiran 60 calon Paskibraka pagi itu menjadi warna tersendiri—pertemuan antara semangat olahraga, ketulusan seorang ibu, dan perjuangan generasi muda Kabupaten Solok menuju tugas kebangsaan pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

