Latest Post

Jakarta (RangkiangNagari) - Lima pebulu tangkis Indonesia lolos ke babak perempat final Korea Open 2025 yang akan memulai laga Jumat pagi ini.

Dalam ungguhan PBSI pada Jumat, kelimanya adalah Jonathan Christie dan Alwi Farhan dari tunggal putra, Putri Kusuma Wardani pada tunggal putri, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah pada ganda campuran, dan ganda putra Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri.

Jonathan akan menghadapi atlet Jepang Kenta Nishimoto di Suwon Gymnasium, Suwon, setelah mengalahkan Chia Hao Lee dari Taiwan dengan 22-20, 15-21, 21-15 dalam tempo 1 jam 10 menit.

Alwi juga ke perempat final setelah menang WO dari Cheuk Yiu Lee, untuk menghadapi atlet China, Weng Hong Yang.
Putri KW akan menjajal Kim Ga Eun dari Korea Selatan, setelah mengalahkan Yu Pao Pai 21-14, 21-15 dalam 16 besar.
Amri Syahnawi/Nita Marwah akan menghadapi pasangan China Guo Xin Wa/Chen Fang Hui setelah menaklukkan wakil Jepang Hiroki Midorikawa/Natsu Saito.

Sementara itu, Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri mengalahkan pasangan Jepang Kenya Mitshuhashi/Hiroki Okamura guna menghadapi Jin Yong/Na Sung Seung dari Korea Selatan.

Jadwal pertandingan Indonesia pada perempat final Korea Open 2025:
Jumat (26/9)
Jonathan Christie vs Kenta Nishimoto (estimasi 15.20 WIB)
Alwi Farhan vs Weng Weng Hong Yang (estimasi 14.40 WIB)
Putri Kusuma Wardani vs Kim Ga Eun (estimasi 15.30 WIB)
Amri Syahnawi/Nita Marwah vs Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (estimasi 13.00 WIB)
Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri vs Jin Yong/Na Sung Seung (estimasi 14.40 WIB).

 

#Rn

Payakumbuh (Rangkiangnagari) - Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemko Payakumbuh di Pasar Padang Kaduduak, Kamis (25/09/2025), diserbu ratusan warga sejak pagi.

Kegiatan ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang tengah menghadapi lonjakan harga bahan pokok, khususnya cabai merah, bawang merah, dan beras yang harganya terus merangkak naik sejak Agustus lalu.

Berbagai bahan pangan dijual dengan harga lebih murah dari pasar, seperti beras premium Anak Daro, beras SPHP, cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng. Warga cukup membawa fotokopi KTP sebagai syarat pembelian.

“Cabai merah sekarang mahal sekali, bisa sampai Rp80 ribu per kilogram di pasar. Dengan adanya pangan murah ini, saya bisa belanja untuk kebutuhan rumah tangga tanpa khawatir kantong jebol,” ujar Rina (38), salah seorang warga yang rela antre sejak pagi.

Wali Kota Payakumbuh yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Irwan Suwandi, mengatakan GPM merupakan langkah cepat pemerintah daerah dalam menghadapi gejolak harga dan menjaga daya beli masyarakat.

“Pemko Payakumbuh berkomitmen mewujudkan stabilitas pasokan dan harga pangan yang tetap terjangkau. Melalui pangan murah, kami berharap kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik dan aman,” ujarnya.

Irwan menambahkan, kegiatan ini terlaksana berkat dukungan CSR Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat senilai Rp5 juta.

Kolaborasi ini disebutnya sebagai bukti kepedulian berbagai pihak dalam menjaga ketahanan pangan di daerah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Payakumbuh, Edvidel Arda, menjelaskan, GPM digelar setelah pihaknya menemukan tren kenaikan harga yang cukup signifikan sejak Agustus hingga pekan kedua September 2025.

“Cabai merah, bawang merah, dan beras mengalami fluktuasi harga yang tinggi. Melalui pangan murah ini, kami berupaya meredam lonjakan harga sekaligus membantu warga agar kebutuhan rumah tangga mereka tetap terpenuhi,” jelasnya.

Menurutnya, GPM tidak hanya memberikan solusi sementara, tetapi juga menjadi bagian dari program pengendalian inflasi daerah.

“Kegiatan ini akan terus digelar secara berkala di beberapa lokasi, sehingga dampaknya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean warga sudah mengular sejak pagi sebelum kegiatan ini dimulai.

Suasana pasar tampak ramai dengan warga yang membawa tas belanja, berharap bisa mendapatkan cabai, beras, dan bawang merah dengan harga lebih bersahabat.

Bagi banyak masyarakat, GPM menjadi penyelamat di tengah tingginya harga bahan pokok menjelang akhir tahun.

“Kalau bisa kegiatan seperti ini rutin digelar, karena sangat membantu kami, apalagi di akhir bulan ini,” pungkas Rina. (Rn) 


Sebelum dibuka kantor Dewan Pers Lt . 4, Pengurus PWI Pusat dan anggota Dewan Pers ramah tamah

JAKARTA (Rangkiangnagari) - Pengurus PWI Pusat secara resmi kembali menempati sekretariat di lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (25/9).

Prosesi serah terima kunci dan pembukaan segel diawali  dengan silaturrahmi antara Pengurus PWI dan Dewan Pers di lantai 7 Gedung Dewan Pers. Kunci kemudian diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, didampingi Wakil Ketua Totok Suryanto serta anggota Dewan Pers Abdul Manan, Muhammad Jazuli dan jajaran lainnya. 

Ketika Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat disaksikan Ketum PWI Pusat Akhmad Munir menyaksikan gembok kantor mulai dibuka.

Dari PWI hadir Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, bersama Ketua Dewan Kehormatan Atal S. Depari, Sekjen Zulmansyah Sekedang, serta pengurus pusat lainnya.

Dalam sambutannya, Komaruddin Hidayat menyebut lantai 4 seperti ruang 'horor' bila dibiarkan kosong. Karena itu, ia merasa lega PWI akhirnya kembali berkantor di sana. 

“Kami berharap PWI bisa segera beraktivitas, menjalankan konsolidasi, dan memperkuat sinergi bersama Dewan Pers. PWI juga jangan lupa melakukan regenerasi dan pengaderan agar lahir wartawan yang kompeten, profesional, dan berintegritas di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyampaikan apresiasi atas dukungan Dewan Pers. Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali kantor atau sekretariat PWI ini menjadi momentum penting bagi PWI untuk melanjutkan agenda strategis dan program organisasi. 

“Kami keluarga besar PWI mengucapkan terima kasih kepada Dewan Pers. Kini kami bisa segera berkantor serta melaksanakan program kerja, mulai dari konsolidasi organisasi, penyelesaian dualisme, verifikasi kartu PWI, hingga penyempurnaan PD/PRT,” katanya.

Direktur LKBN Antara itu menambahkan, keberadaan PWI di lantai 4 bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga momentum untuk memperkuat kontribusi PWI dalam meningkatkan kualitas pers nasional. 

“Lalu bagaimana kami turut berkontribusi pada ekosistem pers yang kuat, sehat, dan berintegritas. Untuk itu, kami harus kembali merancang pendidikan dan pelatihan. Selama ini PWI sudah menjalankan program seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Sekolah Jurnalistik Indonesia, dan berbagai pelatihan, agar wartawan khususnya anggota PWI memiliki kompetensi sekaligus menjunjung tinggi etika jurnalisme,” tegas Munir.(rls)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.