Latest News

Ketua MOI Kota Solok Permainan Tradisional Lore Menjadi Aset Yang Terabaikan

Kota Solok (Rangkiangnagari) - Ketua DPC Media Online Indonesia (MOI) kota Solok, Wahyu Yudistira menyebutkan, permainan Tradisional Lore atau Dore adalah permainan anak nagari yang diwariskan oleh nenek moyang, dan harus terus dilestarikan dan kembali diwariskan kepada generasi penerus.

Namun disebabkan terjadinya perkembangan zaman secara global, membuat permainan yang memilik nilai nilai kehidupan dan banyak manfaat itu, menjadi terabaikan, dan seakan seakan telah hilang dari permukaan.

Permainan Lore atau Dore adalah salah satu permainan anak nagari yang disajikan dalam bentuk ukiran diatas tanah, yang  berupa gabungan beberapa persegi. Permainan Lore atau Dore memerlukan media lain seperti  gundu yang terbuat dari batu atau kayu berbentuk datar atau pilih yang nantinya dilempar kedalam persegi persegi dan tidak boleh memakan Line atau garis persegi yang ada.

" Seharusnya perintah daerah melalui instansi terkait benar benar mampu menggali peninggalan nenek moyang yang telah menjadi aset tersebut, apalagi sebuah permainan yang memiliki banyak manfaat dan kaya dengan nilai nilai kehidupan " imbuh Wahyu Yudistira yang akrab disapa dengan panggilan Ega tersebut.

Menurut Jurnalis senior yang identik dengan rambut panjangnya itu, berdasarkan hasil wancara yang dilakukannya pada Senin, 12 September 2922, dengan Abdul Gafar.S.Kep.M.PH salah seorang peneliti permainan Tradisional Lore tersebut, menyimpulkan bahwa permainan itu banyak manfaat dan nilai nilai positif yang dapat diimplementasikan oleh anak dalam kehidupannya sehari hari.

Secara makro bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fisik, mengatur keseimbangan tubuh, melatih konsentrasi dan kefokusan, mengandung unsur sosialisasi, mengasah motorik kasar, meningkatkan kreativitas, merangsang pertumbuhan otot dengan baik, serta merangsang tumbuh untuk bersemangat dalam hidup.

Sementara itu nilai nilai positif yang terkandung antara lain adalah, memiliki nilai Religius. Setiap anak yang memainkan permainan Lore diwajibkan memulai permainan dengan menyebut nama Allah. Nilai Kejujuran, permainan Lore tidak menghalalkan segala cara untuk sebuah kemenangan, dan mengakui apabila melakukan kesalahan.

Permainan Lore juga mengandung nilai Toleransi, dalam hal itu, permainan yang digemari oleh kaum hawa itu, juga mendapat tempat untuk kaum adam, dan dari survei yang dilakukan, permainan tradisional itu dimainkan bersama oleh anak perempuan dan anak laki laki.

Nilai Disiplin dalam permainan Lore, mengajarkan anak anak atau pemain untuk mengikuti seluruh aturan yang ada, dan menolak apabila terjadi kecurangan dalam permainan. Untuk memenangkan permainan, anak atau pemain dilatih untuk bekerja keras, agar jalurnya dapat mendahului jalur pemain lain, dan dalam hal itu, dibutuhkan sebuah kreatifitas dan potensi untuk melahirkan sebuah ide agar dapat menyelesaikan dan menang dalam permainan.

Permainan Lore juga melatih anak untuk bersikap mandiri tampa ketergantungan pada ide dan prinsip pemain lain. Pemainan Lore juga cendrung melahirkan rasa ingin tau  terkait cara untuk mengalahkan lawan.  Permainan Lore juga melatih jiwa anak anak untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, walaupun dalam permainan yang berlangsung telah dapat diketahui keadaan yang sebenarnya atau sebuah kekalahan, namun permainan harus diselesaikan sesuai aturan yang ada.

Mengakhiri paparan yang disampaikannya itu, Ega berharap agar pemerintah daerah setempat  memanfaatkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Abdul Gafar.S.Kep.M.PH, dan menjadikan sebagai acuan untuk dapat memasukan permainan Lore atau Dore menjadi salah satu studi dibidang olahraga disekolah yang ada,  hingga lembaga pendidikan itu menjadi wadah untuk melestarika serta mewariskan peninggalan nenek moyang kita dulu.(Rn/Lz)

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 Comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Ketua MOI Kota Solok Permainan Tradisional Lore Menjadi Aset Yang Terabaikan Rating: 5 Reviewed By: Ryan Permana